Amalia Maulana – The “I-Brand”
Amalia E.Maulana, sebagai pembicara ketiga membawa materi yang lebih mengena pada tema seminar ini. Secara khusus ia menjelaskan tentang “I-Brand”. Ia tak setuju dengan istilah personal branding. Baginya, personal branding lebih merefer pada public figure yang sasarannya massive, banyak orang. Sementara ”I-Brand” untuk siapapun yang ingin membentuk citra diri. Latar belakang pendidikan akademis Amalia (di belakang namanya ada gelar Ph.D) aku rasa sangat menunjang cara dia menyampaikan materi. Sangat runtut, sistematis, dengan gaya bicara yang jelas, pelan dan tegas. Apalagi suaranya agak berat gimana.. gitu. Really, I like the way she speaks. Amalia memberi contoh bagaimana personal branding itu bisa berubah menjadi baik atau bahkan menjadi buruk. Britney Spears menjadi contoh bagaimana personal brand dia sekarang jadi hancur, padahal tahun 2002-2004an ia dikenal begitu positif dan dipuja-puja, menjadi idola banyak orang.
Angelina Jolie menjadi contoh yang lain. Ia dikenal sebagai sosok yang taugh dan sexy (dari beberapa perannya di film) dan imej itu ia jaga di keseharian, kemudian belakangan ia menambahkan image ‘motherhood’ dengan menunjukkan pada publik bagaimana ia menyusui sendiri bayinya dan mengadopsi anak-anak dari dunia ketiga. Ia mengup-grade personal brandnya jadi lebih baik lagi, dari sekedar sexy dan taugh.
Saat sesi tanya jawab tiba, ada beberapa pertanyaan tentang changing personal brand concept, bagaimana membangun reputasi kalau terlanjur buruk, bagaimana membranding pekerja sosial, bagaimana mensinergikan brand personal dan brand perusahaan, sampe pertanyaan tentang kartu nama, dari kartu nama yang mencantumkan 5 jenis usaha sekaligus (mulai dari usaha kecantikan sampe leveransir bahan bangunan) sampe laik tidaknya ada foto di kartu nama. Soalnya ada yang sampe mencantumkan foto keluarga segala lo di kartu nama ….
Aa Gym menjadi contoh yang sering disinggung di sini. Tanpa bermaksud menjelekkan, apa yang terjadi pada Aa’ Gym menjadi contoh betapa personal brand itu begitu kuat dan menjadi core untuk MQ management. Jadi begitu Aa’ Gym melakukan sesuatu yang melawan mainstream dan kebetulan banyak yang tidak sepakat dengan langkah Aa’ Gym, maka yang kena imbasnya tidak hanya Aa’ Gym, tapi juga seluruh bisnis di bawah MQ manajemen. Mereka perlu membangun brand lagi dari bawah untuk bisa seperti dulu di tahun 2005-2006.
Jika pada sesi pertama teori-teori branding bertebaran, pada sesi kedua lebih mengupas pengalaman pribadi. Rieke yang sangat lekat dengan imej ”Oneng” dan Susi yang begitu sukses membangun perusahaannya meski tak tamat SMA.